DalamKitab Wahyu, Bunda Maria tampak jelas digambarkan sebagai Ratu Surga: Dia menggunakan Mahkota, melahirkan Raja dari Keturunan Daud, dan berperang melawan Naga (Wahyu 11-12). Mari kita lihat ciri-ciri Kerajaan Daud yang diwariskan kepada Yesus. Luk 1:32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi.
KITAB SUCI +Deuterokanonika - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju Katekismus Gereja Katolik Partner Link Website Keuskupan, Paroki & Gereja Partner Link Website Katolik & Umum MENGENAL MARIA, SANG BUNDA ALLAH Oleh Hariawan Adji, PENGANTAR Tulisan berjudul Maria Santa Bunda Allah ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai diri Maria dan perannya dalam karya keselamatan Allah, sebagaimana diketahui bahwa devosi kepada Maria yang tumbuh dan berkembang dengan pesat dalam masyarakat Indonesia , khususnya di Jawa seringkali tidak dipahami dan ditempatkan secara tepat oleh umat beriman. Diharapkan dengan membaca tulisan ini umat beriman dapat menyadari peran Maria dalam karya keselamatan sehingga mereka dapat berdevosi secara benar. Tulisan ini terdiri dari empat bagian utama, yaitu Pendahuluan yang berisikan tentang keadaan pemahaman umat Katolik tentang Maria. Bagian kedua adalah Kesaksian Alkitabiah tentang Kebundaan Maria, yang berisikan ulasan kisah Maria sebagai bunda Yesus dalam Injil. Bagian ketiga berjudul Tradisi Gerejawi Ajaran tentang Kebundaan Maria, yang berisi ulasan mengenai ajaran-ajaran resmi Gereja tentang Maria sebagai Bunda Allah1 . Selanjutnya adalah bagian Pemahaman Ulang Makna Kebundaan Maria, yang berisi tentang hasil analisis mengenai makna kebundaan Maria berdasarkan kisah Injil dan ajaran Gereja. Bagian kelima adalah bagian Refleksi Peran Maria Dlam Hdup Umat dan bagian yang terakhir adalah Penutup. Tulisan yang berjudul Maria Santa Bunda Allah ditujukan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai diri Maria dan perannya dalam karya keselamatan Allah melalui Yesus Kristus. Diharapkan dengan gambaran yang jelas ini, umat beriman akan dapat mengimani Yesus dan Maria secara tepat. BAB I PENDAHULUAN Umat Katolik Indonesia dikenal sangat devosional. Sasaran devosional umat Katolik Indonesia cukup beragam, namun yang utama dan seringkali dipilih adalah Ada bermacam-macam bentuk devosi kepada Maria, baik yang berbentuk doa-doa, antara lain Rosario, Litani Maria, Novena Tiga Kali Salam Maria, Tujuh Duka Maria dan Iain-lain, maupun melalui kelompok-kelompok tertentu, misalnya Legio Maria, Gerakan Imam Maria Senakel, ataupun ziarah, dan Iain-lain. Umat beriman, seringkali lupa bahwa dalam berdevosi kepada Maria, mereka tidak boleh lepas dari Yesus Kristus. Mereka seringkali beranggapan bahwa Maria adalah pengantara mereka kepada Allah, bahkan menganggap Maria sebagai sasaran doa mereka. Hal ini tampak dalam ungkapan-ungkapan doa yang mereka sampaikan secara spontan dalam doa-doa bersama. Sesuatu yang salah kaprah karena Maria bukanlah Allah yang menyelenggarakan dunia Maria adalah Bunda Allah tetapi bukanlah Allah; ia adalah manusia Ini seringkali disalah-mengerti oleh umat. Maria juga bukanlah pengantara kepada Allah, karena Yesus Kristuslah adalah satu-satunya Pengantara Allah dan Memang Maria sering diberi berbagai macam gelar yang seolah-olah memposisikan ia sebagai pengganti Kristus sebagai Pengantara satu-satunya. Gelar-gelar tersebut adalah Advocata Pengacara yang pertama kali digunakan oleh Ireneus dari Lyon 130-202, Auxiliarix Pembantu dan Auxiliarix Penolong yang kerap digunakan di Gereja Timur, dan Mediatrix Pengantara, suatu gelar yang relatif baru yang dipromosikan oleh Kardinal Marcer, Belgia 1928. 6 Gelar-gelar ini harus dipahami sedemikian rupa agar tidak merelatifkan peran Yesus sebagai satu-satunya Pengantara. Maria adalah pengantara dalam dan oleh Pengantara Yesus Kristus. Kepengantaraan Maria bukan antara Kristus dan manusia, dan bukan antara Allah dan manusia, seakan-akan ada dua Pengantara yaitu Yesus dan Maria, melainkan di dalam Kristus di antara Allah dan Manusia. Pengantaraan Maria tidak dapat berdiri sendiri dan lepas dari Puteranya, ia adalah pengantara karena ia adalah Bunda Banyak umat Katolik Jawa memandang figur Maria seperti seorang dewi, khususnya dewi Sri yang dihormati dalam tradisi Jawa. Hal ini tampak sekali dalam lagu-lagu yang diciptakan untuk menghormati Maria yang memandang Maria sebagai sosok yang memiliki kuasa Maria dalam konsep Katolik tidak sama dengan dewi Sri dalam konsep animisme-dinamisme Jawa. Maria bukanlah sosok pribadi yang ilahi dari dirinya sendiri. Inilah perbedaannya dengan dewi Sri dalam konsep Jawa yang adalah seorang dewi yang dari semula turun dari khayangan ke bumi dan kembali lagi ke khayangan setelah kematiannya di dunia. Pencampur-adukan konsep Katolik dan konsep animisme dinamisme Jawa dalam penghormatan kepada Maria tampak pula pada pola ziarah yang kerap dilakukan oleh umat beriman yang memandang suatu tempat bersifat keramat karena di sana bertahta Maria dalam suatu gua. Dalam tempat-tempat ziarah yang demikian, biasanya posisi Maria berada di pusat, sedangkan Yesus malahan menempati posisi di bawahnya. Hal yang sama terjadi juga di kalangan orang Katolik keturunan Tionghoa. Banyak di antara mereka menganggap figur Maria sama dengan figur dewi Kwan Im. Sebagaimana diketahui bahwa dalam agama Kong Hu Cu, dewi Kwan Im sangat dihormati dan dipuja sebagai dewi Welas Asih, yang perannya tidak jauh berbeda dengan peran Maria sebagai Bunda Penuh Kasih. Namun dua sosok perempuan pujaan ini sebenarnya sangat jauh berbeda. Dalam konsep agama Kong Hu Cu, Dewi Kwan Im adalah seorang manusia yang karena kesucian hidupnya akhirnya menjadi seorang dewi. Setelah menjadi seorang dewi, ia menjadi penolong manusia yang berkesusahan, baik manusia yang masih hidup di dunia ini maupun manusia yang telah hidup di alam lain setelah kematiannya. Ia menjadi dewi karena usaha kerasnya menjalani hidup suci di dunia Sebaliknya dalam pandangan Katolik, Maria menjadi bunda Allah bukan karena dirinya sendiri. Maria memang hidup suci, namun bukan itu yang membuat ia menjadi Bunda Allah, melainkan karena Puteranya yang adalah Allah sendiri. Maria menjadi Bunda Allah, bukan karena dirinya sendiri tetapi karena hubungannya dengan Sang Dari gambaran dua praktek penghormatan kepada Maria di atas dapat disimpulkan bahwa penghormatan terhadap Maria cenderung mengambil bentuk yang tidak sesuai11 dengan pandangan para Bapa Konsili Vatikan Dalam bentuk ini, Maria seolah-olah dipisahkan dari orang Dia menjadi semacam ' dewi' yang tidak dari dunia lagi. Seluruh hidup Maria seolah-olah satu rentetan mukjijat saja dan tugas Maria di surga sekarang adalah membagikan rahmat-rahmat yang pernah dikumpulkan oleh Puteranya dengan wafat dan kebangkitanNya. Maria seakan-akan adalah seorang dewi yang mandiri, yang dari kekuasaannya sendiri membagikan rahmat yang telah dikumpulkannya. Bentuk devosi yang demikian tidaklah tepat dan dapat mengaburkan makna devosi kepada Maria. Devosi kepada Maria baru mempunyai arti apabila diarahkan kepada Kenyataan yang demikian tentu tidak dapat dibiarkan begitu saja, karena akan mengarah kepada pengkultusan Maria sebagai pribadi yang ilahi, menggantikan Puteranya, yang tentunya akan mengarah pula pada ajaran sesat. Semua kenyataan ini sebenarnya berawal dari ketidakpahaman umat beriman akan Maria sebenarnya dan bagaimana posisinya dalam karya keselamatan Allah yang diyakini oleh Gereja Katolik. Mereka perlu mendapat bimbingan agar dengan demikian mereka dapat memposisikan devosi kepada Maria secara tepat. BAB II KESAKSIAN ALKITABIAH TENTANG KEBUNDAAN MARIA Maria memang tidak banyak ditampilkan dalam Kitab Suci. Beberapa ekseget Katolik mengatakan bahwa sebenamya sosok Maria telah ditampilkan dalam nubuat-nubuat Perjanjian Lama, misalnya dalam kisah pengusiran Adam dan Hawa dari taman Firdaus dimana Allah mengatakan akan mengadakan permusuhan antara ular dan perempuan, juga tentang Puteri Sion yang berbahagia dan lain-lain. Namun nubuat-nubuat tersebut tidak menampilkan sosok Maria sebagai seorang bunda, oleh sebab itu kesaksian akitabiah tersebut tidak dibahas dalam bagian ini. Selain itu beberapa ekseget Katolik juga mengatakan bahwa sosok Maria juga tampil dalam kitab Wahyu, namun sekali lagi dalam kitab tersebut sosok Maria tidak ditampilkan sebagai seorang bunda, dan oleh sebab itu kesaksian alkitabiah ini juga tidak menjadi pembahasan dalam bagian ini. Adapun yang menjadi pembahasan dalam bagian ini adalah kisah Maria dalam keempat Injil, karena dalam Injil-injil tersebut Maria ditampilkan sebagai bunda Yesus Maria, bunda yang dilahirkan sebagai perempuan Mat 11-17, Luk 323-38 Matius dan Lukas membuka Injil mereka dengan dafitar nama-nama yang disebut pohon keluarga. Lukas menuliskan pohon keluarga ini secara urut ke atas, sedangkan Matius menuliskannya secara urut ke bawah. Meskipun sifatnya yang monoton dan kering, pohon keluarga ini memiliki makna yang luas dan penting. Pohon keluarga ini menunjukkan bahwa Allah bukanlah suatu kekuatan alam ataupun suatu tata kosmis, melainkan Allah yang personal, meskipun tanpa nama, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. la adalah Bapa Tuhan Yesus Kristus. Dalam Matius, nama Maria diletakkan pada akhir pohon keluarga. Di antara orang Yahudi, pohon keluarga, biasanya hanya memuat nama-nama laki-laki, tapi dalam pohon keluarga Yesus, muncul nama perempuan, Maria. Maria di sini muncul sebagai referensi pada Yesus Kristus. Karena pada akhir dan puncak daftar tersebut adalah Yesus Kristus dan karena Kristus tidak dikandung tanpa Maria, maka Matius memasukkan nama Maria dalam daftarnya, Dengan cara ini keterlibatan Maria dalam Petjanjian Baru mulai pada akhir daftar pohon keluarga. Maria dalam daftar pohon keluarga tersebut berada di titik temu antara kemanusiaan dan Allah. Putera Allah menerima kodrat kemanusiaanNya dari Maria dan masuk ke dunia manusia melalui dia. Dengan demikian, Maria adalah perwakilan dari generasi-generasi sebelum dirinya dan pada saat yang sama ia adalah pintu masuk bagi generasi-generasi sesudahnya yang diselamatkan. Maria, bunda yang menerima kabar dari malaikat Tuhan Luk 126-38 Saat hidup Maria yang paling agung adalah ketika Malaikat Gabriel memberi salam kepadanya 'Salam, hai engkau yang penuh rahmat' dan meminta kepadanya untuk menjadi Bunda Allah, Maria tidak menginginkan gelar yang lain kecuali 'Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanMu itu!'. Berbeda dengan Hawa yang telah mengejar kekuasaan dan berkehendak merebut kebebasan mutlak dari Allah, dimana ia menjadi tidak taat dan mencelakakan seluruh umat manusia, Maria tidak menginginkan apa-apa di hadapan Allah, kecuali menjadi hamba yang rendah dan kecil. Itulah sebabnya Allah memandang dia. Maria tahu dirinya hanyalah makhluk, dan dengan demikian bergantung dalam segala hal pada Tuhan, dan ia berbahagia atas keadaannya itu. Maka ia selalu siap sedia untuk melaksanakan semua kehendakNya, bahkan kehendakNya yang paling kecil sekalipun. Dengan penuh perhatian ia mencari tanda-tanda yang paling kecilpun mengenai apa yang menjadi perkenan Allah dan selalu siap sedia patuh kepada perintah-perintahNya. Allah meluhurkan Maria dengan minta persetujuannya - bukan perihal suatu peristiwa yang teramat sederhana - namun sangat penting dan berpengaruh bagi dunia. Dan Maria menjawab dengan terbuka dan terus terang, dengan bertanya17 dan tidak ragu-ragu menyatakan Hanya tatkala ia sudah merasa puas karena telah mengerti apa yang diminta daripadanya, diberikannyalah persetujuannya akan apa yang diajukan oleh Allah. Ia bebas dan bertanggung jawab dalam pembicaraan dengan Allah. Dan dalam hal ini, ia memberikan teladan bagi semua orang Kristen di segala zaman. Maria, bunda yang mengunjungi Elisabet saudarinya Luk 139-45 Setelah perawan Maria bersedia menjadi bunda Yesus dan mengandung dari Roh Kudus, ia berkunjung ke rumah Elisabet, sanaknya, yang tinggal di sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Mendengar salam itu, Elisabet penuh dengan Roh Kudus lalu berseru dengan suara nyaring Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia yang telah percaya sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana.'19 Mendengar pujian itu, Maria sama sekali tidak memprotes, seperti halnya ketika Malaikat Gabriel menghadap dan menyalami 'Salam Maria penuh rahmat'20 . Hati Maria yang rendah hati tidak menolak kebenaran itu, ia tidak mencegah pujian itu, tetapi mengembalikannya kepada Allah segala sesuatu yang menjadi milik Allah dengan bermadah Magnificat21 Dalam madah itu Maria mensyukuri perbuatan-perbuatan baik Allah terhadapnya. Madah itu tidak hanya merupakan puji syukur pribadi namun merupakan pujian semesta. Maria memuliakan kemenangan-kemenangan Allah. Maria senantiasa lekat mendengarkan Allah yang bersabda kepadanya dalam Kitab Suci dan . dengan tanda-tanda yang diberikan kepadanya dalam hidupnya, tanda-tanda kehadiranNya dan kasihNya. Maria juga lekat mendengarkan bisikan batin, cara yang terkadang digunakan oleh Allah untuk menyatakan diri di dalam lubuk jiwa guna menyampaikan rencana-rencanaNya. Dan sejak saat Sabda Abadi Bapa menjadi daging dalam dirinya, Roh Maria lebih terpikat lagi kepada segala sesuatu yang dapat merupakan petunjuk hadirnya yang adikorati baginya, itulah sebabnya, perawan Maria bijak lestari itu selalu merenungkan dalam hatinya semua peristiwa dalam hidupnya baik ketika ia belum melahirkan sang Putera ke dunia, maupun pengalamannya bersama Sang Putera. Maria, bunda yang melahirkan Yesus di kandang Bethlehem Luk 21-20, Mat 118-25 Maria melahirkan Puteranya di sebuah kandang dan membaringkannya di dalam palungan22 karena tidak ada lagi tempat bagi mereka di rumah penginapan. la adalah bunda jasmani dari Yesus karena dari jasmaninya telah lahirlah seorang manusia Yesus. Dengan melahirkan kemanusiaan Kristus, Maria menjadi bunda seluruh Pribadi Yesus dan tidak hanya bunda dari dagingNya saja. Kepada Putra Allah yang kekal, perawan Maria dapat berkata dengan sepenuh hati, 'Anakku, Engkau! Engkau telah kuperanakkan pada hari ini."23 Kebundaan Maria tidak hanya terbatas pada kebundaan menurut daging. Untuk itulah Maria telah dipanggil oleh Allah dan ia dapat saja menerima atau menolak tawaran itu secara sebebas-bebasnya. Perawan Maria memberikan 'fiat'nya, persetujuannya, kesediaannya untuk mengikuti rencana Allah; kebundaannya sepenuhnya disepakatinya; ia mau untuk sepenuh-penuhnya bertanggungjawab. Ia tidak hanya mempersembahkan kepada Allah, tubuh yang teramat murni untuk membentuk tubuh Adam Baru; akan tetapi, berdasarkan pengetahuannya yang diperolehnya dari Kitab Suci, ia telah menyambut tanggung jawab untuk mengandung dan melahirkan Raja, ahli waris tahta Daud, Putera Allah sendiri, dan juga Hamba yang menderita' yang akan menjadi Penebus orang banyak. Kebundaan ilahi Maria, yang bukan dari darah atau keinginan laki-laki, tetapi dari Allah sendiri, tentulah juga merupakan kebundaan Rohani. Maria, bunda yang mengungsi ke Mesir bersama Puteranya dan Yosep Mat 213-23 Herodes, karena takut akan kehilangan tahtanya oleh Raja yang Baru, segera memerintahkan pasukannya untuk mencari bayi Yesus dan membunuhNya. Sekali lagi Maria dan Yosep mengadakan perjalanan jauh. Jika dalam perjalanan sebelumnya bayi Yesus masih ada dalam kandungannya, sekarang ini bayi Yesus ada di atas pangkuannya dan dalam pelukannya. Maria dan Puteranya serta suaminya tinggal di negeri asing selama beberapa waktu sampai Herodes Setelah itu mereka semua menempuh perjalanan jauh lagi kembali ke Nazaret di mana Maria dan Yosep mengasuh Yesus sampai Ia menjadi besar. Semua perjalanan-perjalanan yang melelahkan itu Maria dan Yosep lakukan demi keselamatan Puteranya, demi cinta mereka kepadaNya. Maria menghayati pengungsian, perjalanan ziarah Abraham, Ishak, Yakub dan bapa bangsa Yosep; ia merasakan terlebih dahulu sejarah perjalanan ziarah Gereja di Maria, bunda yang diramal oleh Simeon Luk 221-38 Hati seorang bunda pastilah akan kecut mendengar nubuat Simeon tentang Sang Putera 'Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang',26 dan tentang dirinya sendiri 'dan suatu pedang kesedihan akan menembus jiwamu sendiri'.27 Maria pasti tidak asing dengan Kitab Suci, ia pasti mengetahui segala yang dinubuatkan oleh Yesaya tentang derita 'Hamba Tuhan'.28 Tiap kali kepedihan hati datang menyerangnya, ia akan bertanya, 'Inikah saat pedang yang dinubuatkan oleh Simeon?'. Tak seorang pun yang luput dari rasa kuatir dan takut di dunia ini dan Yesus tidak mengecualikan bundaNya. Yesus dengan demikian membuat bundaNya penuh pemahaman dan penyambutan terhadap semua orang yang hatinya gentar dan kemudian menumpahkan segala pedih perih hidup mereka di dunia kepada jiwa sang bunda yang senantiasa terancam pedang dan berdekatan dengan dia, dapat menemukan kembali ketenangan jiwa yang tabah dan kedamaian anak-anak Allah. Maria, bunda yang hidup bersama Yesus dan Yosep Luk 239-40,51 Maria setia melaksanakan tugas sehari-hari. Kita tidak melihat adanya mukjizat dalam hidup Maria di bumi ini. Satu pun tidak. Ia tidak berbeda dengan wanita-wanita yang lain; pekerjaannya, kegembiraannya dan keprihatinannya dalam hidup sehari-hari sama saja dengan pekerjaan, kegembiraan dan keprihatinan bunda-bunda lain, yakni menjadi bunda rumah tangga yang baik, yang memelihara serta melayani anggota-anggota keluarganya. Pekerjaan-pekerjaan Maria itu biasa dan tidak membuatnya menonjol. Akan tetapi, semua itu dilakukan demi kebahagiaan Keluarga Kudus. Kesucian Bunda Maria mengajarkan perihal kesucian yang sejati, kesucian yang tampaknya tidak istimewa tetapi sesungguhnya merupakan kesucian yang heroik karena besarnya cinta kasih yang dituntutnya. Maria, bunda yang mencari Puteranya di Bait Allah Luk 241-52 Pada suatu perayaan Paskah ketika Yesus berusia duabelas tahun, Maria bersama Yesus dan Yosep pergi berziarah ke Yerusalem, sebagaimana biasa mereka lakukan setiap tahunnya. Dalam perjalanan pulang, setelah beberapa hari berjalan, Maria dan Yosep baru menyadari bahwa Yesus tidak bersama mereka. Setelah mereka mencari-cari Ia di antara sanak keluarga dan tidak menemukannya, mereka memutuskan kembali ke Yerusalem. Maria begitu cemas kehilangan Puteranya dan ketika ia menjumpaiNya di Bait Suci, ia berkata kepadaNya,29 'Nak, mengapa Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.'30 Yesus menjawabnya, 'Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?'31 Meski Maria tidak mengerti apa maksud jawaban Yesus, ia diam dan menyimpan semuanya dalam Maria adalah ibu yang terbuka, yang mengungkapkan dan mengkomunikasikan perasaan hatinya kepada Puteranya. Ia tidak marah kepada Puteranya, namun hanya mencari kejelasan. Maria, bunda yang hadir dalam pesta di Kana Yoh 21-11 Maria hadir di pesta perkawinan di Kana. Hamba Tuhan adalah juga hamba manusia. Di tengah-tengah pesta, temyata anggur habis. Barangkali ada orang yang melihat hal itu dan dalam hati mereka menyalahkan tuan rumah. Maria sebagai bunda rumah tangga yang penuh perhatian, membayangkan betapa malunya si empunya rumah dan betapa sedihnya mempelai berdua apabila mengetahui keadaan itu. Maria hendak menolong - walaupun tanpa mereka minta - maka ia menemui Yesus dan menyampaikan masalah itu kepadaNya 'Mereka kehabisan anggur'. Pernyataan itu hanyalah pemberitahuan, Maria hendak menarik perhatian PuteraNya akan keadaan itu. Pernyataannya itu bukanlah permintaan; hanyalah suatu sentuhan halus, tetapi juga suatu doa sebab Maria percaya akan kuasa kebaikan Puteranya. Akan tetapi, Yesus seperti tidak ambil pusing. Ia tidak menolak, tetapi juga menganggap bahwa turun tangan Bunda Perawan belum tepat saatnya 'Mau apakah engkau dari padaku, Bunda?, saatKu belum tiba.' Tidak ada percakapan lebih lanjut antara Putera dan Bunda. Tetapi wajarkah ada penundaan jika bunda meminta? Apalagi, adakah saat khusus untuk pernyataan kasih yang tak terbatas? Itulah sebabnya, Maria33 menemui para pelayan dan berkata, 'Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!' Dan airpun menjadi anggur. Demikian jasa Maria berkat doanya Sang Penyelamat mengerjakan 'pertanda' pertama. Maria, yang bersama saudara-saudara Yesus mencariNya Mrk 331-35; Mat 1246-50; Luk 819-21 Kisah ini sering kali digunakan untuk menggambarkan Maria secara negatif. Apalagi dalam Mrk 320-21 dikatakan bahwa kaum keluarga Yesus menganggap Yesus tidak waras. Bahkan dalam Mrk 331-35, Maria ditampilkan seolah-olah ia tidak termasuk dalam keluarga baru Yesus yang didasarkan pada iman. Ini tidak berarti bahwa Maria dikucilkan dari keluarga Yesus yang baru itu, ini terbukti pada saat setelah kenaikan Yesus ke surga, Maria berada bersama-sama saudara-saudara Yesus dan para rasul, berkumpul bersama dan bertekun dengan sehati dalam doa Pendapat lain mengatakan bahwa teks ini tidak bermaksud mendiskreditkan Maria dan saudara-saudaraNya, karena tema utama perikop ini bukanlah tentang kebundaan Maria tetapi tentang pemuridan. Dalam kisah itu Yesus ingin mengajarkan kepada para muridnya bahwa yang terpenting untuk menjadi keluarga Kristus adalah bukan status hubungan darah tetapi Dengan perkataannya ini Yesus menyatakan bahwa semua orang dapat saja menjadi anggota keluargaNya, menjadi anak-anak dari Sang Allah Bapa. Maria, bunda yang dipuji bahagia Luk 1127-28 Seorang perempuan berteriak dari antara orang banyak Berbahagialah ia yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau'. Ungkapan tersebut jelas menunjuk kepada Maria, sebagai bunda Yesus. Namun Yesus tidak menjawab 'Ya' melainkan berkata 'Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan memeliharanya'. Ungkapan Yesus ini bukan mau mengatakan bahwa Maria tidak layak disebut bahagia, melainkan hendak mengatakan bahwa Maria, bukan hanya seorang bunda jasmani bagi Yesus, tetapi juga salah seorang pengikutNya. Maria layak disebut bahagia bukan hanya karena ia adalah bunda kandung Yesus tetapi terlebih karena ia mengikuti Dia. Menurut para Bapa Gereja kebundaan rohani Maria - kerelaannya menyambut Kristus Penyelamat dalam jiwanya dengan iman - lebih penting daripada kebundaan jasmani Maria, bunda yang berdiri di kaki salib Yesus Yoh 1925-27 Maria hadir saat Yesus tergantung di atas salib. Ia berdiri di samping murid yang dikasihi oleh Puteranya. Maria hadir pada puncak penderitaan Yesus. Ia tidak meninggalkan Puteranya yang ditinggalkan oleh banyak pengikutNya. Maria menjadi Bunda yang hadir pada awal dan akhir kehidupan Yesus di dunia. Pada saat yang penting dalam hidupNya itu, Yesus menyerahkan bundaNya kepada murid yang dikasihiNya. Dalam tradisi Katolik, hal ini diartikan Yesus yang memberikan bundaNya sebagai bunda rohani bagi murid-muridNya. Tidak dapat disangsikan tindakan ini merupakan pernyataan keprihatinan khusus dari Sang Putera bagi bundaNya, yang ditinggalkanNya dalam derita yang amat besar. Namun 'Warisan' Yesus yang diberikan dari atas salib ini membuka lebih banyak arti daripada keprihatinan tersebut. Dapat dikatakan bahwa kebundaan Maria terhadap manusia, yang sudah mulai muncul secara samar, kini dengan terang digambarkan dan ditentukan. Kebundaan itu bersumber pada akhir misteri Paska Sang Penyelamat. Maria, yang berada langsung dalam suasana yang melingkupi semua orang, diberikan kepada manusia sebagai bunda bagi setiap orang dan semua orang. BAB III TRADISI GEREJAWI AJARAN GEREJA TENTANG MARIA 38 Dasar dari ajaran Maria Bunda Allah adalah kenyataan bahwa Yesus Kristus adalah Allah Manusia; siapa diri Maria, Sang Bunda Allah tidak dapat dipisahkan dari keAllah-Manusiaan Yesus. Ini berarti untuk memahami siapa diri Maria, Sang Bunda Allah, diperlukan pemahaman yang kuat akan ajaran tentang Yesus Kristus. Oleh sebab itu pembahasan dalam bagian ini diawali dengan pembahasan mengenai ajaran tentang Yesus Kristus dan kemudian berlanjut kepada pembahasan mengenai ajaran tentang Maria. Ajaran tentang Kristus sebagai Dasar Ajaran tentang Maria 'Allah begitu mencintai manusia, sehingga la menyerahkan Putera TunggalNya.' 39 Inti dari pemyataan iman ini adalah pengutusan Putera Allah untuk mengambil bagian dalam sejarah manusia. 'Ketika tiba waktunya, Allah mengutus PuteraNya dilahirkan oleh seorang perempuan'40 demikian kata Paulus. Penjelmaan ini merupakan dasar kekristenan. Sabda yang dari semula bersama Allah dan adalah Allah menjelma menjadi Mulai saat penjelmaan itulah orang yang sebelumnya tidak dapat melihat Allah dapat melihat Allah melalui Putera TunggalNya. Penjelmaan adalah misteri Pribadi Kedua dari Tritunggal Mahakudus, misteri Yesus Kristus sebagai Allah dan manusia, misteri keberadaannya sebagai Allah Manusia. Pengertian 'penjelmaan' menunjuk pada bagaimana Sabda menjadi manusia; dan oleh sebab itu berarti suatu karya di mana Allah mengambil kodrat manusia dalam rahim seorang perempuan, mengangkatnya dan menyatukannya dengan Pribadi ilahi yang kedua. Dalam penjelmaan tersebut dua kodrat yang sangat berbeda, kodrat Allah dan kodrat manusia, Sebagai Putera Allah yang menjadi daging dari daging Maria,43 Yesus Kristus merupakan hasil perpaduan personal dari dua kodrat yang berbeda ini. Perpaduan antara kodrat ilahi dan kodrat insani ini disebut persatuan hipostasis, yang artinya menyatu tetapi tidak bercampur. Yesus Kristus adalah baik Allah dan manusia yang bersatu. Sebagai Allah, la sehakekat dengan Bapa sebelum adanya waktu dan sebagai manusia yang dilahirkan dalam waktu dan sehakekat dengan ibunya. la adalah Allah yang sejati dan juga seorang manusia yang sejati, dengan jiwa yang lasional dan daging la setara dengan Bapa dalam keilahianNya tetapi la lebih rendah daripada Bapa dalam Meskipun la adalah Allah dan manusia, la bukanlah dua tetapi satu. la adalah satu, bukan karena keilahianNya diubah menjadi daging, tetapi karena kemanusiaanNya diilahikan. la adalah satu, bukan karena percampuran antara yang ilahi dan yang manusiawi, tetapi karena la adalah satu Kristus adalah manusia sejati, ia satu ras dengan Adam. la memiliki kodrat kemanusiaan yang lengkap dan nyata, termasuk memiliki tubuh yang nyata sebagaimana manusia pada umumnya. Kodrat kemanusiaanNya lengkap dengan segala potensi dari indera dan sistem tubuh. Selain itu juga Ia memiliki pikiran spiritual dan kehendak manusiawi. Ia dilahirkan sebagai seorang manusia sejati dari seorang ibu manusia. Kodrat kemanusiaan yang lengkap dan sempurna ini bukanlah pribadi yang berbeda dari Pribadi ilahi sebagai Sang Sabda. Kodrat kemanusiaan Yesus adalah kodrat manusiawi dari Pribadi ilahi. Perpaduan ini juga bukanlah percampuran dua kodrat dan bukan pula setengah manusia setengah Allah; melainkan suatu perpaduan yang tidak terpikirkan oleh manusia. Kodrat itu bukanlah suatu pribadi. Sang Sabda mengangkat kodrat manusia, kodrat yang sama dengan kodrat manusia pada umumnya. Pengangkatan kodrat manusia oleh Sang Sabda ini tidak mengakibatkan perubahan pada Sang Sabda. Oleh sebab itu kodrat kemanusiaan Yesus dimiliki dan menjadi milik Pribadi Sang Sabda. Tidak ada perubahan dalam kodrat yang diangkatNya karena kodrat tersebut ada dalam Pribadi Sang Sabda dan bukannya berada dalam kodrat Kekristenan merupakan kabar baik karena didasarkan pada kenyataan historis bahwa Allah mengutus PuteraNya untuk bersatu dengan manusia. Dengan mengambil hakekat yang bukan diriNya dan tanpa kehilangan hakekatNya, suatu keajaiban terjadi di dunia, yaitu Allah Keajaiban ini berarti bahwa Putera Allah yang abadi sekarang menampakkan kemuliaan Allah di hadapan manusia. Dalam Putera yang menjadi daging, manusia melihat Allah yang tidak tampak dan mengalami kasih Allah yang tidak pernah dilihatnya. Para Bapa Gereja Yunani menyebut hal ini sebagai 'perkawinan' Allah dan manusia. Sebagaimana pasangan pengantin, mereka tidak lagi dua melainkan satu daging. Dengan demikian dalam diri Yesus ada misteri 'perkawinan' sempurna antara Allah dan manusia dalam satu pribadi Putera Allah. Perpaduan ini begitu nyata sehingga Yesus memberitahu Filipus yang berharap melihat Bapa Yesus, 'Dengan melihat Aku, engkau melihat Bapa'.49 Dari Ajaran tentang Kristus Menuju ke Ajaran tentang Maria Gereja para rasul dan para martir awali menghayati kepenuhan Kristus ini. 'Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan' demikian kata Pada masa itu mereka tidak perlu mendefinisikan kebenaran iman ini dalam bentuk ajaran karena suara para rasul masih menggema dan otoritas mereka menjamin isi iman tersebut. Namun akhimya muncullah bidaah-bidaah. Kebenaran yang pertama kali dipertanyakan adalah tentang komunikasi diri ilahi apakah Kristus adalah Putera Allah yang sesungguhnya sehingga Allah benar-benar memberikan diriNya kepada manusia? Seandainya ya, apakah la benar-benar mengosongkan diriNya dan mengambil kodrat manusia seutuhnya sebagaimana manusia lain kecuali dalam hal dosa, atau perpaduan antara Putera Allah dengan kodrat manusia terjadi secara tidak langsung dan hanya sebagian sifatnya, sehingga Kristus adalah benar-benar Putera Allah Bapa di surga dan bukan Putera seorang perempuan di bumi? Jawaban yang jelas atas tiga pertanyaan ini muncul setelah bidaah-bidaah ini51 mulai menampakkan pengaruhnya di antara umat beriman. Arius menolak keilahian seutuhnya dari Kristus. Konsili ekumenis yang pertama menegaskan bahwa Kristus adalah 'Allah dari Allah, Allah benar dari Allah benar dan satu dengan Bapa'. Kemudian pada abad keempat, bidaah Apollinaris menolak kemanusiaan seutuhnya dari Kristus. Mereka menjelaskan bagaimana Logos menggantikan posisi jiwa manusia dari tubuh yang diambilNya dari Maria. Gereja secara bulat menolak pandangan ini dan menegaskan kembali kemanusiaan sepenuhnya dari Sang Sabda. Bidaah yang ketiga dimunculkan oleh Nestorius yang tidak mau mengakui bahwa Sang Sabda yang abadi telah menyatu secara personal dengan Konsili ekumenis ketiga di Efesus53 menyatakan bahwa Sang Sabda telah menyatukan diriNya secara hypostasis kath'hypostasiti daging yang dijiwai oleh jiwa rasional, menjadi manusia seutuhnya dan disebut Putera Oleh sebab itu para Bapa Gereja tanpa ragu-ragu menyebut Maria, sang Perawan Suci, sebagai Bunda Manfaat dari ajaran ini terutama tampak setelah satu abad dari saat ditetapkannya. Untuk menghormati Kristus dan untuk menjaga kebenaran ajaran inkarnasi, serta untuk menjaga kebenaran iman tentang kemanusiaan Putera Abadi, konsili Efesus menetapkan Santa Perawan Maria sebagai Bunda Allah56 Gelar ini sebenarnya sudah lama ada dalam tradisi Gereja, tetapi kemudian diangkat kembali oleh konsili. Gelar ini ditetapkan untuk menjaga kebenaran iman akan Yesus Kristus. Gelar tersebut menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah sungguh-sungguh Allah; gelar tersebut juga menampakkan bahwa Yesus adalah Manusia, karena Maria adalah manusia. Gelar tersebut juga menunjukkan perpaduan antara dua realitas yang berbeda, realitas ilahi dan realitas manusiawi, yaitu Allah dan manusia. Sebagaimana Maria ketika hidup di dunia ini memelihara dan menjaga secara personal Putera ilahinya, dengan menyandang gelar 'Bunda Allah' ini ia menjadi penjaga kebenaran akan hakekat Puteranya. Pada saat bidaah-bidaah menyatakan bahwa Puteranya bukanlah Allah atau bukan manusia yang sesungguhnya, atau dalam kasus Nestorius, bahwa Ia tidak sungguh-sungguh menyatu dengan kemanusiaan, Gereja memproklamirkan bahwa Maria adalah Bunda Allah57 Gelar ini dapat menumpas semua bidaah-bidaah yang mempersoalkan kodrat Yesus Kristus. Dalam upaya menolak bidaah-bidaah tersebut, Gereja tidak hanya mengakui dan memperdalam kebenaran akan Kristus, tetapi juga memuliakan bundaNya. Dalam menjawab bidaah-bidaah yang merendahkan Sang Putera, Gereja menghormati bundaNya. Gereja melihat bahwa gambaran akan kebundaan ilahi Maria adalah implikasi nyata dari iman Gereja akan Kristus dan bahwa kebundaan ilahi ini mencerminkan iman akan Kristus. Iman kepada Allah tidak dapat dinyatakan tanpa iman akan Maria sebagai Bunda Allah. Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa kemuliaan Maria bukanlah bagi dirinya sendiri, tetapi bagi Putera ilahinya dan GerejaNya. Oleh sebab itu pada saat pengesahan ajaran Maria Diangkat ke Surga, pada tahun 1950, Paus Pius XII menyatakan 'Keuntungan besar bagi kemanusiaan dari pengesahan ini adalah bahwa Maria akan membawa umat kepada kemuliaan Tritunggal Mahakudus.' Konsekuensi iman akan Maria sebagai Bunda Alla58 Iman akan Maria sebagai Bunda Allah membawa berbagai konsekuensi penting pada iman. mengenai siapa dan apa peran Maria. Maria sebagai Bunda Allah tentunya tidak sama dengan manusia-manusia yang lain, meski ia secara kodrati adalah manusia. Sebagai Bunda Allah, ia tentunya telah dipersiapkan oleh Allah sendiri. Sebagai Bunda Allah konsekuensi pada diri Maria, adalah Maria, Bunda Perawan Penjelmaan tidak terjadi tanpa persiapan. Penjelmaan baru terjadi setelah melalui proses yang panjang. Ada tiga tahap, pertama-tama Allah berbicara kepada leluhur Israel di masa lampau melalui para Nabi dan dengan berbagai cara59 Penjelmaan terjadi setelah pewahyuan Allah kepada Abraham dan keturunannya. Penjelmaan pada diri Yesus Kristus merupakan puncak dari suatu rentetan peristiwa perwujudan kasih Allah kepada manusia, mulai dari Abraham, Ishak dan Yakub pada masa Perjanjian Lama60 Perjanjian antara Allah dan Israel adalah persiapan bagi kedatangan Kristus di dunia. Perjanjian tersebut merupakan bukti kesetiaan janji Allah kepada Israel yang tidak setia memegang janjinya. Ungkapan Hosea pada 111-2, 4 menunjukkan hal ini 'Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anakKu itu'. Meski demikian Allah tidak murka dan menghukum Israel, ' Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bemyala-nyala itu'61 Sebagai Allah dari segala sesuatu, ia berjanji untuk lebih mencintai lagi. Atas tujuan inilah Ia mempersiapkan perwujudan terakhir akan cinta pengampunanNya yang abadi. Meskipun Israel telah melakukan berbagai hal yang menyakitiNya, Ia tetap menunjukkan kasihNya. Ia akan melakukan hal yang bar62 dan menawarkan perjanjian yang baru. 63 Pada kepenuhan waktu, Allah mengutus SabdaNya, Putera TunggalNya, yang kemudian dilahirkan oleh seorang puteri Abraham, Maria dari Nazaret Maria mewakili Israel menjawab 'ya' tanpa syarat atas tawaran Allah. Maria berdiri di hadapan Allah leluhurnya dan berdialog denganNya. Di sinilah terjadi puncak dialog antara Allah dan manusia, suatu bentuk konkrit dialog antara Yahweh dan Israel. Di sinilah Maria berdiri sendiri di hadapan Allah Abraham dan Allah para Nabi. Tidak seperti para leluhurnya yang tidak mampu membina persatuan dengan Allah, Maria mengambil pilihan yang radikal yang ditawarkan oleh Allah dan memutuskan untuk menerima Sang Sabda dalam rahimnya, sehingga Sang Sabda menjadi tulang dari tulangnya dan daging dari dagingnya. Maria mengandung Sang Sabda dan sekaligus tetap Penjelmaan ini benar-benar karya Allah dan tanpa keterlibatan ayah manusiawi. Dengan keadaan Maria yang mengandung dan sekaligus tetap perawan, keputeraan manusiawi ilahi Yesus ditampakkan. Selain itu, hal ini juga menampakkan bahwa Bapalah yang mengutus Dia sebagai bukti kasihNya kepada manusia dan bahwa Maria menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah sebagai wakil dari bangsa Israel dan umat beriman yang menantikan pemenuhan janji Allah. Pemberian diri seutuhnya yang dilakukan oleh Maria merupakan bukti pemberian diri yang tak terbatas dan merupakan jawaban yang diberikan dengan penuh kesadaran atas tawaran kasih Allah yang tak terbatas, yang telah mewahyukan diriNya. Persetujuan Maria untuk menjadi bunda perawan dari Allah Putera menampakkan kebenaran bahwa pengutusan Putera terjadi bukan karena Allah berhutang pada manusia, tetapi suatu pemberian diri cuma-cuma dari Allah, yang nilainya lebih dari segala pemberian lainnya. Yesus adalah Putera Allah dalam kodrat ilahiNya dan kodrat manusiaNya yang diperolehnya dari sang perawan. Hanya ada satu Putera, Putera Bapa menjadi Putera Maria. Tidak ada dua putera yang berbeda dalam diri Yesus. la adalah Putera Allah dan sekaligus Putera Maria Dikandung Tanpa Noda Tujuan kedatangan Yesus adalah untuk mengampuni dosa dan mengembalikan persatuan manusia dengan Sang Pencipta yang telah dihancurkan oleh dosa. Dosa dipandang sebagai suatu bentuk pengasingan dari Allah, dan pengasingan ini membawa bersamanya pengasingan dari sesama dan dari kodrat dirinya sendiri. Pengasingan adalah kurang benamya relasi dengan Allah. Dosa asal adalah penyimpangan dari relasi yang benar dalam pribadi, masyarakat dan sejarah. Kitab Suci Perianjian Baru menggambarkan penyelamatan sebagai upaya berbalik dari pengasingan ini. Yesus Kristus datang, diutus oleh Bapa dan dibimbing oleh Roh Kudus untuk menyatukan kembali manusia dengan Bapa. Dia datang sebagai imam dan domba korban untuk mempersembahkan korban bagi mereka yang berdosa. la wafat dan bangkit kembali. Misteri Paska dimana Kristus yang telah diserahkan karena pelanggaran-pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita66 menyatukan kembali dunia ini kepada Bapa Tuhan Yesus Kristus. Kristus adalah Adam baru dan mereka yang tinggal dalam Kristus adalah adam-adam baru. Bagaimana posisi Maria dalam perspektif ini? Sebagai Bunda dari penebus, apakah ia harus menunggu bagi pemurnian dari dosa? Sebagai bunda dari Ia yang adalah Putera Tercinta Allah, dapatkah ia dikesampingkan dari hubungannya dengan Bapa pada saat Ia memilihnya? Sebagai jalan bagi Putera Allah untuk hadir dan menyelamatkan dunia, apakah ia harus menunggu untuk dimurnikan dari segala dosa?67 Apakah Puteranya tidak menginginkan ia menerima buah dari penebusanNya? Sebagaimana pewahyuan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Domba sebelum penciptaan dunia,68 apakah tidak mungkin upah pengorbananNya diberikan terlebih dahulu kepada bundaNya? Jika orang-orang lain termasuk mereka yang hidup sebelum penjelmaan menerima bukankah tidak aneh jika Maria menerimanya pada awal keberadaannya?69 Tentang tema ini para Bapa Konsili menyatakan Oleh sebab itu, tidak heran, bahwa pada para Bapa Gereja berlaku kebiasaan yang menyebut Bunda Allah seluruhnya suci dan bersih dari segala noda dosa, seolah-olah dibentuk oleh Roh Kudus dan dijadikan makhluk baru. Perawan Nazaret ini dikaruniai cahaya kekudusan yang istimewa sejak saat pertama dikandung, dan mendapat salam 'penuh rahmat' dari Malaikat pembawa kabar, yang datang menjumpainya atas perintah Maria telah dipersiapkan oleh Allah bagi karya keselamatan agung ini semenjak ia dikandung dalam rahim ibunya, saat dilahirkan dan saat ia menjadi manusia seutuhnya. Maria Diangkat Ke Surga 'Jika Kristus tidak bangkit, maka sia-sialah iman kita',71 demikian diungkapkan oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus. Pada saat kebangkitanNya, Sang Penebus mengangkat kodrat manusiawi ke dalam kemuliaan. Ia mengangkat kemanusiaanNya yang diperolehNya dari Maria ke dalam kemuliaan Bapa. KebangkitanNya bukanlah sekedar kebangkitan fisik sebagaimana dialami oleh Lazarus dan puteri Yairus, melainkan suatu transformasi ke dalam hidup kemuliaan. Dalam Allah Manusia yang bangkit, kodrat kemanusiaan manusia diangkat ke dalam kemuliaan. Bagaimana posisi Maria pada puncak karya ilahiNya? Sebagaimana Kristus bangkit dan naik ke surga, apakah ia juga diangkat jiwa dan raganya ke dalam surga? Maria adalah bunda perawan dari Allah, dan sebagai yang dikandung tanpa noda, ia tidak pernah menjadi budak dosa. Dia yang telah diselamatkan semenjak awal keberadaannya dan dia yang merupakan hasil persatuan terdalam dari hidup dan cinta pada Putera ilahinya, apakah tidak layak menerima kepenuhan penebusan pada akhir keberadaannya di dunia? Dapatkah orang mengatakan bahwa di dalam surga jiwa Maria memuji Puteranya, Buah Tubuhnya, tanpa raga yang pernah melahirkan Puteranya? Apakah ada hukum alam atau prinsip-prinsip keadilan ilahi yang melarang cinta Putera yang terbaik pada bundaNya yang terbaik. Tentang tema ini, para Bapa Konsili berkata Akhimya sesudah menyelesaikan jalan kehidupannya yang fana, Perawan Tak Bercela yang senantiasa kebal terhadap semua noda asal, diangkat ke kejayaan surgawi dengan badan dan selanjutnya....................pege 2
Lukas 2:34). Nampak jelas adanya kedekatan antara Maria dan Yesus. Demikian halnya ketika Yesus wafat, bangkit dan naik ke Surga. Maria juga mengalami kematian, tetapi dibangkitkan dengan jiwa dan raganya untuk bersatu dengan Puteranya di surga. Itulah juga yang dialami oleh semua orang yang percaya dan diselamatkan oleh Yesus (1 Tes 4:17).
Rosario dan Litani Tujuh Duka MariaPembukaanTuhan, aku mempersembahkan Rosario ini bagi kemuliaan-Mu, agar aku dapat menghormati Bunda Yesus, Perawan Terberkati, sehingga aku dapat berbagi dan merenungkan penderitaan Yesus melalui penderitaan dirinya. Aku dengan rendah hati memohon kepada-Mu untuk memberikan pertobatan sejati bagi semua dosa-dosa yang telah kuperbuat, dan mohon berilah aku kebijaksanaan, dan kerendahan doa Ya Allah, datanglah menolong aku O Tuhan bersegeralah menolongku Kemuliaan kepada Bapa, Putera dan Roh Kudus, sekarang dan selama-lamanya. sebelum renungan Bundaku, bagilah kesedihanmu kepadaku, Biarlah aku ikut menanggungnya bersamamu, untuk merenungkan kematian Yesusmu TobatAllah yang maharahim, aku menyesal atas dosa-dosaku. Aku sungguh patut Engkau hukum, terutama karena aku telah tidak setia kepada Engkau yang maha pengasih dan mahabaik bagiku. Aku benci akan segala dosaku, dan berjanji dengan pertolongan rahmat-Mu hendak memperbaiki hidupku da tidak akan berbuat dosa lagi. Allah yang maha-murah, ampunilah aku, orang berdosa ini. Amin!Salam MariaSalam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu, terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Amin. 3 kaliLalu disambung dengan doa singkat berikutBersama airmata kasih sayang Dukacita Bunda kami dan untuk mempersembahkan paduan air mata kami dengan setiap misteri, doakan Bunda Kerahiman, ingatkan kami selalu pada derita Putera-mu, ke-1 Nubuat Simeon Luk 2 34-35Bunda yang berduka, aku turut bersedih karena pedang penderitaan pertama yang menusuk hatimu; pada saat di Bait Allah, Simeon tua bernubuat bahwa segala kekejaman akan dialami oleh Yesusmu terkasih. Kau telah mengetahuinya dari Kitab Suci, bahwa kekejaman akan mengakibatkan kematianNya di depan matamu, diatas kayu salib hina, kehabisan darah, ditolak oleh banyak orang; sedangkan engkau tak berdaya membela atau penderitaan hatimu aku mohon padamu, Ratuku, perolehkanlah bagiku rahmat sehingga selama hidup dan pada saat ajal aku selalu mengingat akan sengsara Yesus, dan kedukaanmu selalu tertanam Bapa kami, 7x Salam Maria, 1x Bundaku, …Duka ke-2 Pelarian ke Mesir Mat 2 13-14Bunda yang berduka. Aku turut bersedih karena pedang penderitaan kedua yang menusuk hatimu; pada saat tak lama setelah kelahiranNya, puteramu yang tak berdosa terancam kematian, yang dilakukan justru oleh orang-orang yang akan diselamatkanNya dengan kedatanganNya di dunia ini sehingga dalam kegelapan malam engkau beserta puteramu dan suamimu lari ke Mesir Dan engkau, wanita muda yang lemah lembut, telah melakukan perjalanan panjang yang melelahkan dengan mengalami banyak kesulitan bersama puteramu yang masih lemah, melalui padang pasir dan kota yang tidak bersahabat, dan akhirnya, sebagai orang asing yang tidak mengenal siapapun, engkau telah hidup selama bertahun-tahun dalam kemiskinan dan kehinaan. Aku mohon, Bundaku terkasih, perolehkanlah bagiku rahmat untuk menderita bersamamu dengan kesabaran hingga ajal, yang merupakan akhir kehidupan yang menyedihkan ini, sehingga akhirnya aku diperkenankan untuk menghindari hukuman abadi neraka yang pantas ku Bapa kami, 7x Salam Maria, 1x Bundaku,…Duka ke-3 Yesus hilang di Yerusalem Luk 243-45Bunda yang berduka, aku ikut bersedih karena pedang penderitaan ketiga yang menusuk hatimu; pada saat di Yerusalem engkau kehilangan puteramu terkasih selama 3 hari. Tidak melihat belahan hatimu disampingmu dan tidak mengetahui alasan perbuatanNya, dapat kubayangkan dengan baik, Ratuku terkasih, bahwa selama malam-malam itu engkau tidak dapat tidur dengan nyenyak dan hanya memikirkan Dia, hartamu satu-satunya. Demi kepedihan hatimu selama 3 hari yang terasa panjang dan pahit, aku mohon padamu, perolehkanlah bagiku rahmat agar aku tidak akan pernah kehilangan Tuhanku, selalu berpegang teguh padaNya, sehingga pada saat aku meninggalkan dunia ini, aku akan disatukan denganNya1x Bapa kami, 7x Salam Maria, 1x Bundaku,…Duka ke-4 Maria bertemu Jesus di jalan menuju Kalvari Luk 2327-31Bunda yang berduka, aku ikut bersedih karena pedang penderitaan keempat yang menusuk hatimu; pada saat engkau melihat puteramu terkasih dijatuhi hukuman mati, diikat dengan tali dan rantai, tubuh tertutup darah dan luka, dimahkotai duri-duri kasar, jatuh dibawah salib berat yang dipanggulNya di atas pundak terluka, berjalan bagai domba tak bersalah untuk mati demi cintaNya pada kami. Matamu memandangNya dan Dia menatapmu, pandangan yang sekejap itu bagaikan beribu-ribu panah yang melukai hatimu yang manis. Demi penderitaan yang sangat sedih itu, aku mohon padamu, perolehkanlah bagiku rahmat untuk hidup, sesuai dengan kehendak Tuhanku dan memanggul salibku dengan suka cita bersama dengan Yesus sampai akhir Bapa kami, 7x Salam Maria, 1x Bundaku,…Duka ke-5 Yesus wafat di kayu salib Yoh 1925-27Bunda yang berduka, aku turut bersedih karena pedang penderitaan kelima yang menusuk hatimu; pada saat di Golgota engkau melihat puteramu Yesus terkasih wafat secara perlahan-lahan di depan matamu, dengan begitu banyak siksaan dan penghinaan, pada kayu salib hina. Engkau tak berdaya memberikan penghiburan yang terkecil sekalipun seperti yang diberikan pada seorang penjahat besar yang mendekati ajalnya. Bundaku yang paling kukasihi, aku mohon, demi penderitaan yang engkau alami bersama dengan puteramu yang wafat, dan demi kepedihan yang engkau rasakan terutama pada saat-saat terakhir dimana Dia berbicara padamu dari atas kayu salib, mengucapkan selamat tinggal dan meninggalkan kami semua dalam diri Yohanes muridNya sehingga menjadikan kami semua anak-anakmu, dan setelah ketetapan tersebut engkau melihatNya menundukkan kepala dan wafat; perolehkanlah rahmat dari kekasih tersalibmu agar aku dapat hidup dan mati dengan menyangkal segala hal duniawi sehingga aku dapat menghabiskan hidupku hanya untuk Allah dan kemudian pada saat memasuki surga untuk menikmatiNya, dengan saling bertatap Bapa kami, 7x Salam Maria, 1x Bundaku,…Duka ke-6 Yesus diturunkan dari kayu salib Yoh 1940Bunda yang berduka, aku ikut bersedih karena pedang penderitaan keenam yang menusuk hatimu; pada saat engkau melihat hati manis puteramu ditusuk dengan tombak. Dia telah wafat bagi manusia yang tidak tahu terima kasih yang setelah kematianNya tidak puas dengan siksaan dan penghinaan yang telah diberikan kepadaNya. Demi penderitaan hebat yang telah kau jalani ini, aku mohon padamu, perolehkanlah rahmat bagiku untuk masuk ke dalam Hati Yesus yang terluka dan terbuka untukku, sehingga di dalam Hati itu, aku dapat merasakan bahwa disanalah satu-satunya tempat terindah dari kasih, dimana jiwa-jiwa yang mengasihi Allah beristirahat dan hidup di dalamNya. Aku tidak boleh mengasihi apapun kecuali Allah, perawan tersuci, engkau dapat memperolehkannya bagiku, aku berharap Bapa kami, 7x Salam Maria, 1x Bundaku,…Duka ke-7 Yesus dimakamkan Yoh 1938-42Bunda yang berduka, aku turut bersedih karena pedang penderitaan ketujuh yang menusuk hatimu; pada saat engkau melihat puteramu yang telah wafat dalam pelukanmu, tidak seindah dan sempurna seperti pada saat engkau menerimaNya di palungan Bethlehem, tetapi dengan tubuh tertutup darah, pucat dan dikoyak oleh luka-luka sehingga tulang-Nyapun terlihat; dan engkau kemudian berkata “Puteraku, puteraku, beginikah kasih memperlakukanMU?” Pada saat Dia dibawa ke makam, engkau ingin menemaniNya dan meletakkanNya dengan tanganmu sendiri dan mengatakan salam perpisahan yang terakhir, kemudian engkau meninggalkan hatimu yang penuh kasih terkubur bersama puteramu. Dengan pengorbanan dan kepedihan jiwamu yang suci, aku mohon, perolehkanlah bagiku, o Bunda yang penuh kasih, pengampunan dari segala perbuatanku yang menyakiti dan melawan Tuhanku terkasih, yang kusesali dengan sepenuh hati. Mohon kuatkanlah aku dalam pencobaan, temanilah aku pada saat ajalku, selamatkanlah jiwaku melalui kemurahan Yesus dan engkau, sehingga pada suatu saat setelah segala sesuatu yang buruk ini, aku boleh sampai ke surga untuk menyanyikan lagu pujian bagi Yesus dan engkau untuk sepanjang Bapa kami, 7x Salam Maria, 1x Bundaku,…Doa PenutupYa Allah, karena sengsaraMu yang telah dinubuatkan oleh Simeon, pedang penderitaan telah menikam hati termanis Bunda Maria, Perawan yang terkudus dan pada kami yang merenungkan dan menghormati dukanya, agar diperbolehkan menikmati pahala yang penuh rahmat dari sengsaraMu, karena Engkau yang hidup dan berkuasa sepanjang segala Paulus Pius VII Halini terungkap ketika Kristus menjalani sengsara-Nya, dan sebelum wafat-Nya Kristus menyerahkan para murid kepada Bunda Maria. Setelah peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus, Bunda Maria bersama para rasul berdoa memohon Roh Kudus. Roh Kudus yang akan memimpin Gereja`dan kita sebagai anggotanya`kepada seluruh kebenaran. - Sedikit yang diketahui mengenai riwayat hidup Maria dari Perjanjian Baru. Dia adalah kerabat dari Elizabet, istri dari imam Zakaria anggota golongan imam Abia. Elizabet sendiri seorang keturunan Harun Maria bertempat tinggal di Nazareth di Galilea, kemungkinan bersama dengan kedua orang tuanya, dan sementara itu telah dipertunangkan dengan Yusuf dari Keluarga Daud. Para Apologis Kristen kadang-kadang menduga bahwa Maria, sebagaimana Yusuf, juga adalah seorang keturunan Raja Daud. Selama masa pertunangan mereka – yakni tahap pertama dalam pernikahan Yahudi; selama masa tersebut, pasangan yang dipertunangkan tidak diperbolehkan sama sekali untuk berduaan saja di bawah satu atap, meskipun sudah sah disebut suami isteri – Malaikat Gabriel mewartakan kepadanya bahwa dia akan menjadi ibu dari Mesias yang dijanjikan itu dengan cara mengandungnya melalui Roh Kudus. Ketika Yusuf diberitahukan mengenai kehamilan Maria dalam sebuah mimpi oleh "seorang malaikat Tuhan", dia terkejut; namun malaikat itu berpesan agar Yusuf tidak gentar dan mengambil Maria sebagai isterinya. Yusuf mematuhinya dengan secara resmi melengkapi ritus pernikahan itu. Karena malaikat telah memberitahukan Maria bahwa Elizabet, yang sebelumnya mandul, kini secara ajaib telah mengandung, Maria lalu segera mengunjungi kerabatnya itu, yang tinggal bersama suaminya Zakaria di sebuah kota Yudea "di daerah perbukitan" kemungkinan di Yuttah, bersebelahan dengan Maon, sekitar 160 km dari Nazareth. Begitu Maria tiba dan menyalami Elizabet, Elizabet dengan segera menyatakan Maria sebagai "ibu dari Tuhannya", dan atas pernyataan itu Maria menyanyikan sebuah kidung ungkapan syukur yang umum dikenal sebagai Magnificat. Tiga bulan sesudahnya, tampaknya segera setelah kelahiran Yohanes Pembaptis, Maria pulang ke rumahnya. Ketika kehamilan Maria sendiri makin membesar, tiba sebuah dekret dari kaisar Romawi Augustus yang menitahkan agar Yusuf dan sanak keluarganya pergi ke Betlehem, sekitar 80 atau 90 mil kurang lebih 130 km dari Nazareth, untuk mengikuti sensus. Ketika mereka berada di Betlehem, Maria melahirkan putera sulungnya; namun karena tidak ada tempat bagi mereka di penginapan tempat bernaung yang disediakan bagi orang-orang asing[,
Wahyuadalah pernyataan rencana keselamatan Allah kepada manusia. Keselamatan itu sudah di rancang dan dilaksanakan dari dulu oleh nabi-nabi yang di percaya Allah. Dan sekarang puncak dari Keselamatan atau wahyu tersebut adalah diri Yesus sendiri. Yesus yang rela disiksa, dihina bahkan rela wafat di kayu salib untuk menebus semua dosa manusia.
Via Crucis Sukamoro di pinggiran Kota Palembang. Romo Titus Jatra Kelana Pr SALAH satu situs ziarah kristiani di Tanah Suci yang ramai dikunjungi oleh para peziarah yang datang dari berbagai belahan dunia adalah Via Dolorosa. Nama ini tentu tidak asing bagi umat kristiani, lebih-lebih bagi mereka yang pernah mengikuti perjalanan ziarah ke Yerusalem. Via Dolorosa merupakan nama sebuah jalan di Kota Tua Yerusalem, nama ini berasal dari bahasa Latin yang berarti jalan kesengsaraan atau jalan penderitaan. Menurut tradisi sejarah, jalan ini adalah jalan yang dilalui Yesus saat memanggul salib-Nya menuju ke puncak Kalvari. Yisca Harani, seorang pakar Kekristenan dan ziarah di Tanah Suci sebagaimana ditulis oleh Liberty Jemadu dalam mengatakan bahwa rute yang disebut Via Dolorosa itu sudah berubah berkali-kali. Tergantung pada pihak yang menguasai Yerusalem. Bagi orang kristiani, Via Dolorosa memiliki makna mendalam. Jalan yang diapit bangunan berdinding batu kapur inimenjadi saksi bisu perjalanan salib Yesus yang merupakan wujud nyata kasih Allah kepada manusia. Menapaki Via Dolorosa berarti melakukan perjalanan doa melalui jalan-jalan yang diyakini dilalui Yesus dari saat Ia diadili dan dihukum mati oleh Pontius Pilatus, memanggul salib-Nya, disalib, wafat dan dimakamkan. Yesus telah memilih dan menunjukkan jalan ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa sampai wafat di kayu salib agar manusia yang berdosa memperoleh keselamatan. Saat ini, jika kita berkunjung ke tempat ini, kita akan menemukan 14 perhentian Jalan Salib mulai dari tempat Yesus menerima hukuman mati sampai ke Gereja Makam Kudus. Devosi Jalan Salib Merenungkan cinta Yesus Salah satu cara untuk merenungkan perjalanan sengsara dan wafat Yesus yang kita kenal saat ini adalah dengan mengadakan Devosi Jalan Salib. Devosi yang terdiri atas 14 titik perhentian ini mulai dikenal sejak abad ke-4 pada masa Kaisar Konstantinus. Ini menjadi salah satu tradisi rohani yang terus berkembang dan terpelihara hingga saat ini. Pada masa itu ada banyak peziarah datang ke Yerusalem untuk secara khusus berdoa dan merenungkan sengsara Yesus di jalan yang saat ini kita kenal dengan sebutan Via Dolorosa. Bahkan ada tradisi yang menyebutkan bahwa setelah Yesus wafat di salib, Bunda Maria juga mengunjungi jalan yang dilalui oleh Puteranya itu setiap hari. Ia akan memulai perjalanannya dari tempat Yesus menerima hukuman mati sampai ke Kalvari. Via Crucis tampil menawan saat ini. Romo Titus Jatra Kelana Pr Devosi Jalan Salib Tradisi Devosi Jalan Salib dan ziarah ke tempat-tempat suci kristiani semakin berkembang sejak sejumlah tempat suci di Yerusalem itu dipercayakan untuk dikelola oleh Ordo Fransiskan mulai tahun 1342. Sejak itu, Devosi Jalan Salib pun semakin berkembang sehingga kita bisa mengenal beberapa versi Jalan Salib, seperti yang diperkenalkan oleh Alvarest yang Terberkati 1420;Eustochia dan Emmerich 1465;Hingga yang paling kita kenal saat ini, yaitu St. Leonardus dari Porto Mauritio 1676-1751. Dalam sejarah Gereja, tercatat ada beberapa Paus yang memiliki perhatian khusus terhadap Devosi Jalan Salib. Mereka adalah Paus Innocentius XI 1686.Paus Innocentius XII 1694Paus Benediktus XIII 1726Paus Klemens XII 1731.Paus Benediktus XIV 1742. Mereka menganjurkan agar devosi ini dijalankan dengan setia karena menjadi cara yang paling mudah bagi kita untuk menghayati kisah sengsara dan pengurbanan Yesus sampai wafat-Nya di kayu salib. Via Crucis Sukamoro, tempat ziarah baru Salah satu alternatif tempat yang dapat dicatat dalam agenda perjalanan ziarah rohani adalah Via Crucis Sukamoro di Desa Sukamoro, Kec. Talang Kelapa, Kab. Banyuasin, Sumatera Selatan. Tempat ziarah ini berada dekat Gua Maria Mater Misericordiae Bunda Belas Kasih. Kedua tempat ziarah ini berada di kompleks Panti Werdha Rumah Lansia Sumarah yang dikelola oleh Yayasan Sosial Pansos Bodronoyo YSPB dalam naungan Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi PSE Keuskupan Agung Palembang. Lokasi ziarah ini berada sekitar 20 km dari pusat Kota Palembang, Ibukota Provinsi Sumatera Selatan. Via Crucis berasal dari bahasa Latin yang berarti Jalan Salib. Untuk mencapai tempat ziarah yang secara teritorial gerejawi berada di wilayah pelayanan Paroki St. Stefanus Palembang ini para peziarah bisa dengan mudah mencapai lokasi, baik menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Akses menuju lokasi Akses jalan yang dilalui relatif bagus. Dari Jalan Lintas Timur Sumatera yang menghubungkan Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Jambi ada sejumlah pilihan rute yang dapat ditempuh untuk sampai lokasi ziarah ini. Para peziarah dari arah Lampung, Belitang, Kayu Agung, Baturaja, Prabumulih dan sekitarnya setelah exit tol Palembang atau Kramasan dapat melewati rute Musi II kemudian melewati Jalur Gandus. Sedangkan para peziarah dari arah Jambi, Betung, Pangkalan Balai dan sekitarnya dapat melalui Jalur Semuntul, ada rambu penunjuk arah yang menjadi penanda bagi para pelintas. Para peziarah yang datang melalui Bandara Internasional Sultan Mahmud Badarudin II dalam kondisi normal’ hanya membutukan waktu perjalanan sekitar 30 menit. Ketika memasuki gerbang kompleks ziarah ini, suasana sunyi dan tenang begitu terasa. Pelataran parkir yang luas dengan pepohonan rindang berdaun hijau yang tinggi menjulang menghasilkan udara yang segar dan suasana alam yang sejuk. Proses pembangunan Via Crucis dan bentuk akhirnya. Romo Titus Jatra Kelana Pr Dua rute Ada dua pilihan rute, langsung menuju Gua Maria Mater Misericordiae atau menuju Via Crucis. Kita menuju Via Crucis. Setelah berjalan tak jauh pelataran parkir, kita akan berjumpa dengan sosok Yesus yang sedang berdoa. Hal ini mengingatkan kita pada peristiwa yang terjadi setelah Perjamuan Terakhir Yesus bersama para murid-Nya, yaitu berdoa di Taman Getsemani. Dari tempat itu peziarah akan memasuki gerbang batu yang tampak berdiri kokoh dengan puluhan anak tangga bernuansa bangunan Romawi. Ada dua malaikat yang berdiri di bagian atas kiri dan kanan gerbang utama mengapit tulisan Via Crucis Sukamoro berwarna merah. Setelah memasuki gerbang utama peziarah akan memulai menapaki perhentian demi perhentian Jalan Salib yang telah didesain dan dikerjakan dengan baik oleh Gregorius Sutanto bersama tim Blendang-blendung Art Studio dari Yogyakarta. Romo Ignasius Sukari dari Komisi PSE Keuskupan Agung Palembang menuturkan bahwa tempat ziarah yang mulai dibangun sejak April 2021 ini merupakan pengembangan lanjutan dari Gua Maria Mater Misericordiae yang telah dibangun lebih dulu. Tampilan lokasi Pemberhentian Jalan Salin. Romo Titus Jatra Kelana Pr Latar belakang sejarah Gagasan pengembangan tempat ziarah Via Crucis ini lahir dari sejumlah pribadi. Di antaranya Alexander Kurniawan, Subandi dan Zein Rusli yang dikoordinir oleh Romo Bonifasius Djuana selaku Ketua Komisi PSE Keuskupan Agung Palembang. Lantai berbalut keramik hitam menjadi koridor utama dalam manapaki setiap perhentian. Jalan ini telah didesain sedemikian rupa sehingga tetap ramah bagi siapa saja, termasuk lansia dan penyandang disabilitas. Dinding batu pada setiap perhentian yang didesain menyerupai bangunan bergaya Romawi, membantu para peziarah untuk masuk dalam suasana permenungan saat Yesus mengalami peristiwa salib-Nya. Dalam keheningan para peziarah dapat menghadirkan kembali kisah Yesus menapaki Via Crucis. Di setiap bangunan perhentian juga ada penanda bahwa tempat ziarah ini dibangun melalui karya Tuhan yang hadir lewat dukungan dari banyak penderma. Setelah melalui proses perencanaan dan pengerjaan yang melibatkan banyak pihak, akhirnya tempat ziarah Via Crucis Sukamoro ini selesai. Diberkati dalam rangkaian Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Mgr. Aloysius Sudarso SCJ, Uskup Agung Emeritus Keuskupan Agung Palembang yang juga merayakan syukur atas ulang tahun kelahiran ke-76. Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup Agung Keuskupan Agung Palembang juga akan hadir dalam perayaan syukur ini. Tampilan depan Via Crucis saat ini dan saat masih dilakukan pembangunan. Romo Titus Jatra Kelana Pr Silakan datang Jangan lewatkan kesempatan, jangan ragu dan bimbang untuk membuat agenda ke Via Crucis Sukamoro ini. Selain berdoa dan berziarah di Via Crucis para peziarah juga dapat berdoa dan berziarah ke Gua Maria Mater Misericordiae. Dan setelahnya dapat juga berbagi kasih dengan para lansia di Panti Werdha Sumarah dan saudara-saudara yang sedang menjalani rehabilitasi narkoba di Lembaga NAPZA Griya Anak Sayang GAS Nazareth. Untuk peziarah yang datang dari luar kota dan butuh penginapan, tak usah cemas dan khawatir. Wismalat Podomoro yang juga bagian karya PSE Keuskupan Agung Palembang memiliki puluhan kamar dengan sumber air tanah yang segar, kompleks yang hijau dan sejuk dengan beragam pepohonan rindang serta suasana pedesaan yang tenang bisa menjadi salah satu pilihan tempat yang tepat untuk menginap. Ayo, jangan lewatkan kesempatan berziarah dan berdoa sambil berbagi kasih di pinggiran Kota Palembang. Pemberkatan hari Minggu tanggal 12 Desember 2021 dan syukur atas ulang tahun kelahiran Mgr. Aloysius Sudarso SCJ akan disiarkan langsung Minggu, 12 Desember 2021 pukul WIB. Silahkan ikuti dari kanal YouTube Komsos KaPal atau klik link di bawah ini
Maryam(Bahasa Arab: مريم, Arami: מרים, Maryām, kemudian Ibrani Miriam), juga Mary atau Maria, adalah ibu Nabi Isa a.s./Jesus Christ dan didakwa tunangan Yusuf oleh penganut Kristian. Beliau disebut lebih kerap dalam al-Qur'an dari keseluruhan Perjanjian Baru. Dia juga menjadi satu-satunya wanita yang namanya disebut dalam al-Quran, malah Surah Maryam dinamakan bersempenanya.
Kisah Wafat Yesus Kristus, Foto Pixabay Wafat Yesus Kristus yang biasa dirayakan pada akhir Maret atau awal April merupakan peristiwa pengorbanan Yesus Kristus demi membebaskan umat manusia dari kebinasaan akibat Wafat Yesus KristusUsai perjamuan terakhir bersama para murid, Yesus diserahkan oleh murid-Nya sendiri, yakni Yudas Iskariot. Ia digiring ke hadapan Imam Besar Kayafas dengan tuduhan menghujat Allah. Seketika itu juga khalayak umum berteriak bahwa ia harus dihukum hukuman mati hanya boleh dilakukan oleh pemerintah Romawi, sehingga Ia kemudian dibawa ke hadapan Pontius Pilatus. Saat itu, seorang penjahat bernama Barabas malah dilepaskan dan Yesus diserahkan untuk disalib. Kesengsaraan Yesus pun dimulai. Ia disiksa dengan cambukan dan harus memanggul salib sampai ke puncak Golgota sebelum akhirnya mati di kayu Penting dari Wafat Yesus KristusKisah Wafat Yesus Kristus, Foto Pixabay Berdasarkan buku Iman Katolik Buku Informasi, Konferensi Wali Gereja Indonesia, 2018292, inilah makna penting dari wafat Yesus Kristus bagi umat KristenBentuk Kesetiaan dan Ketaatan kepada Allah BapaWafat Yesus Kristus membuktikan kesetiaan dan ketaatan-Nya kepada Allah Bapa untuk menggenapi rencana penyelamatan umat manusia. Yesus menganggap kematianNya bukan sebagai hukuman, tetapi pengorbanan mulia demi keselamatan umat dan kebangkitan-Nya merupakan tindakan yang menyelamatkan umat manusia satu kali untuk selamanya dari kuasa dosa yang Solidaritas kepada ManusiaPaulus menyatakan bahwa peristiwa penyaliban Yesus adalah karya Allah yang menjadi kekuatan bagi hidup manusia. Lewat penyaliban tersebut, kita tahu bahwa Allah senantiasa menyertai hidup kita dan terus mengasihi kita tanpa jemu-jemu, walaupun manusia sering melanggar Kristus bahkan mati dengan bentuk kematian yang paling hina, yaitu disalibkan di antara 2 penjahat, demi menyelamatkan jiwa umat manusia dari Penebusan Dosa Umat ManusiaAllah Bapa rela mengirimkan Putra-Nya yang tunggal ke muka bimi untuk turut merasakan kesengsaraan manusia dan menumpahkan darah-Nya satu kali untuk selamanya untuk menebus dosa seluruh umat manusia di muka bumi dan menghapuskan upah dari dosa, yaitu kematian peristiwa itu, kita dapat mempelajari makna pengorbanan dan cara mengasihi yang tulus. Yesus juga pernah mengajarkan bahwa tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang sahabat yang memberikan nyawanya bagi para Kembali Umat Manusia dengan AllahSelain membebaskan manusia dari kebinasaan, wafat Yesus Kristus juga menandakan kembalinya persatuan di antara Allah Bapa dan umat manusia. Dahulu kala manusia terpisah dari Allah, karena dosa yang membelenggu. Namun, setelah pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib yang menebus dosa kita, kini kita kembali dipersatukan dengan Allah Bapa. Maka dari itu, barangsiapa yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup yang kira hayati makna penting dari wafat Yesus Kristus ini dan berusaha maksimal untuk terus menaati perintah Allah Bapa seumur hidup kita.
DalamInjil Markus tercatat bahwa kepala pasukan itu berdiri berhadap-hadapan dengan Yesus (Mrk 15:39). Menjadi sangat takut - 27:54 Setelah Yesus wafat, terjadilah berbagai peristiwa-tanda (Mat 27:51-53). Dalam kisah ini, peristiwa yang paling menonjol, yaitu gempa bumi, disebut dengan jelas, sedangkan yang lain-lain disinggung secara umum saja.
Pertanyaan Jawaban Maria ibu Yesus dijuluki Allah sebagai "yang dikaruniai" Lukas 128. Julukan "dikaruniai" berasal dari satu kata Yunani yang berarti "berlimpah karunia." Maria menerima karunia Allah. Karunia adalah "perkenanan gratis," yang berarti kita menerima sesuatu walaupun kita tidak layak menerimanya. Maria membutuhkan karunia Allah sama seperti kita. Maria mengerti hal ini, sebagaimana ia nyatakan dalam Lukas 147,"... hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku..." Bunda Maria menyadari bahwa ia membutuhkan Juruselamat. Alkitab menggambarkan Maria sebagai orang biasa yang dipakai Allah secara luar biasa. Ya, memang Maria adalah wanita yang saleh dan dikaruniai oleh Allah Lukas 127-28. Pada waktu yang sama, Maria juga merupakan manusia yang berdosa yang membutuhkan Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya, sama seperti manusia lain Pengkhotbah 720; Roma 323, 623; 1 Yohanes 18. Maria tidak mempunyai khodrat tak berdosa. Alkitab tidak pernah berkata bahwa kelahiran Maria beda dengan kelahiran manusia biasa. Maria adalah seorang perawan yang melahirkan Yesus Lukas 134-38, tetapi ide tentang keperawanan Maria yang abadi tidak Alkitabiah. Matius 125 ketika menulis tetang Yusuf menjelaskan ia "tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus." Kata "sampai" menjelaskan bahwa Yusuf dan Maria bersetubuh setelah Yesus dilahirkan. Maria masih merupakan perawan hingga kelahiran sang Juruselamat, namun Yusuf dan Maria mempunyai beberapa anak setelah Yesus dilahirkan. Yesus mempunyai empat saudara tiri Yakobus, Yusuf, Simon, dan Yudas Matius 1355. Yesus juga mempunyai empat saudara tiri Yakobus, Yusuf, Simon, dan Yudas Matius 1355. Yesus juga mempunyai saudari-tiri, walaupun nama mereka tidak disebutkan atau dirinci jumlahnya Matius 1355-56. Allah memberkati dan mengaruniai Maria dengan memberinya beberapa anak, dan di dalam adat setempat hal itu merupakan indikator akan berkat yang dilimpahkan Allah bagi seorang wanita. Pada suatu waktu ketika Yesus sedang berkhotbah, seorang wanita di tengah himpunan peserta menyatakan, "Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau" Lukas 1127. Tidak ada kesempatan lebih baik bagi Yesus untuk menyatakan bahwa Maria layak dipuji dan dijunjung tinggi. Apakah respon Yesus? "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya" Lukas 1128. Bagi Yesus, ketaatan terhadap Firman Allah lebih penting dibandingkan wanita yang melahirkan Juruselamat. Di dalam Alkitab, Yesus ataupun tokoh lainnya tidak pernah memberi perintah untuk memuji, memuliakan, atau meninggikan Maria. Saudara sepupu Maria, Elisabet, memuji Maria di dalam Lukas 142-44, namun pujian tersebut berdasar pada karunia yang ia dapatkan sebagai wanita yang melahirkan Sang Mesias, bukan kemuliaan Maria secara pribadi. Setelah Elisabet selesai, Maria juga memuji Tuhan akan perhatian-Nya pada orang-orang yang sederhana, serta belas kasihan-Nya, dan kesetiaan-Nya Lukas 146-55. Banyak yang mengira bahwa Maria merupakan salah satu sumber informasi Lukas dalam penulisan Injilnya baca Lukas 11-4. Lukas merekam kisah dimana malaikat Gabriel mengunjungi Maria dan memberitahunya bahwa Maria akan melahirkan seorang putra yang akan menjadi Juruselamat. Maria tidak mengerti karena ia merupakan perawan. Ketika Gabriel memberitahu Maria bahwa anak itu akan dibuahi oleh Roh Kudus, Maria menjawab, "'Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.' Lalu malaikat itu meninggalkan dia" Lukas 138. Respon Maria percaya dan siap tunduk pada rencana Allah. Kita juga seharusnya memiliki iman yang setara pada Allah dan mengikuti Dia dengan yakin. Dalam menggambarkan peristiwa kelahiran Yesus dan respon mereka yang mendengar pesan para gembala tentang Yesus, Lukas menulis, "Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya" Lukas 219. Ketika Yusuf dan Maria membawa Yesus ke bait, Simeon menyadari bahwa Yesus adalah sang Juruselamat dan memuliakan Allah. Yusuf dan Maria kagum akan ucapan Simeon. Simeon memberitahu Maria, "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan -dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri-,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang" Lukas 234-35. Pada waktu yang lain di bait, ketika Yesus berusia dua-belas tahun, Maria kesal karena Yesus tidak ikut ketika orang tua-Nya kembali ke Nasaret. Mereka tertekan dalam mencari-Nya. Ketika mereka menemukan Dia, masih di bait, Ia menjelaskan bahwa Ia harus berada di rumah Bapa-Nya Lukas 249. Yesus kembali ke Nasaret dengan orang-tua duniawinya dan tunduk kepada mereka. Sekali lagi, kita diberitahu bahwa Maria "menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya" Lukas 251. Mengasuh Yesus sepertinya sebuah upaya yang membingungkan tetapi juga penuh pengalaman yang menyentuh hati, dan kenangan ini semakin memuncak ketika Maria mulai memahami sosok Yesus. Kita juga dapat menyimpan dan merenungkan di hati pengetahuan kita akan Allah serta kenangan tindakan-Nya dalam kehidupan kita. Ialah Maria yang meminta Yesus campur tangan dalam pernikahan di Kana, ketika Ia melakukan mujizat-Nya yang pertama dan mengubah air menjadi anggur. Meskipun Yesus sepertinya menolak pada awalnya, Maria memerintah supaya para pelayan menaati perintah-Nya. Mari beriman pada-Nya Yohanes 21-11. Di tengah pelayanan publik Yesus, keluarga-Nya mulai prihatin. Markus 320-31 mencatat, "Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makanpun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi." Ketika keluarganya tiba, Yesus menyatakan bahwa mereka yang melakukan kehendak Allah adalah keluarga-Nya. Saudara Yesus tidak mempercayai-Nya sebelum Ia disalib, namun setidaknya dua di antaranya percaya setelah itu — Yakobus dan Yudas, penulis kitab Perjanjian Baru Tampaknya Maria mempercayai Yesus di sepanjang hidup-Nya. Ia hadir pada peristiwa penyaliban ketika Yesus mati Yohanes 1925, dan peristiwa itu sejalan dengan nubuat Simeon tentang "suatu pedang akan menembus jiwa..." Di atas salib, Yesus meminta Yohanes mengambil alih peran-Nya sebagai putra Maria, dan Yohanes membawa Maria ke rumahnya Yohanes 1926-27. Maria juga berada bersama para rasul pada hari Pentakosta Kisah 114. Akan tetapi, Maria sudah tidak dibahas lagi setelah Kisah pasal pertama. Para rasul tidak memberi peran yang besar pada Maria. Kematian Maria tidak direkam oleh Alkitab. Tidak ada rekaman tentang kenaikan Maria ke surga atau diberikannya peran yang penting di surga. Sebagai ibu duniawi Yesus, Maria perlu dihormati, namun bukan disembah atau dipuja. Alkitab tidak memberi indikasi sedikitpun bahwa Maria dapat mendengar doa kita atau menjadi perantara kita terhadap Allah. Yesus adalah satu-satunya pembela dan perantara kita di surga 1 Timotius 25. Jika disembah, dipuja, atau menerima doa, Maria akan menjawab dengan respon yang sama dengan para malaikat "Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah!" baca Wahyu 1910, 229. Maria sudah memberi teladan dengan mengarahkan puji-sembah, hormat, dan pujaannya kepada Allah saja "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus" Lukas 146-49. English Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia Apa kata Alkitab mengenai bunda Maria?

kisahkehidupan Yesus Kristus, Santa Perawan Maria, Rumah Kudus Nazaret, kelahiran, sengsara, sampai kenaikan kesurga Setelah Maria dan Yosef beristirahat sejenak, tuan rumah menunjukkan kepada mereka suatu penginapan yang jaraknya sekitar satu jam perjalanan ke atas bukit. Wafat St Yosef ; Yesus dan Bunda Maria di Kape Subscribe To

Menurut bukti tertua yang ada, pemujaan terhadap Maria dimulai pada akhir abad ke-4. Pada waktu itu, Gereja Katolik menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi. Jadi, orang-orang yang sebelumnya menyembah dewa-dewi akhirnya mengaku beragama Kristen. Gereja juga mengadopsi ajaran Tritunggal, yang tidak berdasarkan Alkitab. Ajaran Tritunggal membuat para anggota gereja menyimpulkan bahwa Yesus adalah Allah, sehingga Maria pasti adalah bunda Allah. Pada tahun 431 M, sebuah konsili gereja di Efesus secara resmi menyatakan bahwa Maria adalah ”Bunda Allah”. Setelah Konsili Efesus itu, orang-orang mulai memuja Maria secara berlebihan dalam bahasa Inggris disebut Mariolatry, dan kebiasaan ini semakin berkembang. Selain itu, jumlah penyembah dewa-dewi yang menjadi anggota gereja semakin banyak. Akibatnya, patung dan gambar dewi-dewi kesuburan mereka, seperti Artemis orang Romawi menyebutnya Diana dan Isis, pelan-pelan digantikan dengan patung dan gambar Perawan Maria. Pada tahun 432 M, Paus Sixtus III memerintahkan agar sebuah gereja dibangun di Roma untuk menghormati ”Bunda Allah”. Gereja itu dibangun di dekat tempat yang dulunya adalah lokasi sebuah kuil. Kuil itu dibuat untuk menghormati Lucina, dewi kelahiran yang dipuja orang Romawi. Seorang penulis menjelaskan bahwa gereja itu adalah ”simbol abadi dari bercampurnya penyembahan Ibu Agung dalam kekafiran dengan penyembahan Maria setelah Roma mengadopsi Kekristenan”.​—Mary​—The Complete Resource. PadaBunda Maria, Kanak-kanak Yesus mendapatkan perlindungan, dengan menggendong dan memegang tangan-Nya; tetapi Bunda Maria tidak memandang-Nya, melainkan memandang orang (kita sendiri) yang berdoa di depan gambar ini. Jadi gambar ini mengungkapkan 3 peristiwa: 1. Peristiwa gembira, Maria mendapat kabar gembira dari Malaikat Gabriel 2.
Sengsara, Wafat, Kebangkitan dan Kenaikan Yesus adalah materi ke lima Pendidikan Agama Katolik Kelas X. Pada materi ini kita diajak untuk memahami pribadi Yesus Kristus yang rela menderita, sengsara, wafat, dan bangkit demi kebahagiaan manusia. Serta mampu meneladani pribadi Yesus Kristus yang rela menderita , sengsara, wafat, dan bangkit demi kebahagiaan manusia. Materi pembelajaran tentang Kebangkitan dan Kenaikan Yesus ke Surga cukup berat. Tetapi pemahaman tentang materi ini sangat penting, sebab merupakan dasar iman kristiani. Berkaitan dengan peristiwa kebangkitan Yesus, Perjanjian Baru mencatat dua peristiwa penting, yakni peristiwa makam kosong dan penampakan Yesus kepada para murid-Nya. Untuk dalam memahami Sengsara, Wafat, Kebangkitan dan Kenaikan Yesus, kita akan membaginya dalam 2 pokok bahasan, yaitu A. Kebangkitan Yesus B. Kenaikan Yesus Kristus ke Surga A. Kebangkitan Yesus Kabangkitan Yesus merupakan peristiwa besar yang terjadi kurang lebih 2000 tahun yang lalu. Maka kita dapat memahami peristiwa tersebut merupakan peristiwa sejarah, dimana kubur yang telah kosong menjadi bukti nyata kabangkitan Yesus, serta penampakanNya sebagai manusia yang telah bangkit membuktikan peristiwa besar itu. Kebangkitan Yesus merupakan peristiwa sejarah Perjanjian Baru menegaskan bahwa kebangkitan Yesus dari alam maut merupakan kejadian yang benar-benar terjadi dalam sejarah manusia dan sejarah keselamatan. Malahan Santo Paulus telah menulis kepada umat di Korintus sekitar tahun 56 “Yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; dan bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya” 1 Kor 153-4. Rasul Paulus berbicara di sini tentang tradisi yang hidup mengenai kebangkitan, yang ia dengar sesudah pertobatannya di depan pintu gerbang Damaskus bdk. Kis 93-18. Kubur kosong menandai Kristus yang bangkit Kitab Suci Perjanjian Baru menceritakan tentang makam kosong sebagai titik awal kisah kebangkitan Yesus. Tetapi kejadian makam kosong ini tidak langsung dengan sendirinya menjadi bukti tentang kebangkitan. Perempuan-perempuan yang melihat makam Yesus yang kosong, awalnya berpikir bahwa jenazah Yesus diambil orang bdk. Yoh2013; Mat 2811-15. Walaupun demikian, makam kosong itu adalah satu bukti yang sangat penting untuk semua orang. Dengan melihat kejadian makam kosong, dan melihat “kain kafan terletak di tanah” Yoh 206, maka mereka menjadi percaya bahwa Yesus benar-benar bangkit Yoh 208. Mereka akhirnya percaya, bahwa jenazah Yesus tidak diambil oleh manusia, dan bahwa Yesus tidak kembali lagi ke suatu kehidupan duniawi seperti Lasarus bdk. Yoh 1144. Yesus menampakkan Diri Kisah bahwa Yesus bangkit dikuatkan dengan kisah penampakan Yesus. Pertama kali Yesus menampakkan diri kepada Maria dari Magdala, Maria Ibu Yakobus dan Salome bdk. Mat 289-10; Yoh 2011-18. Merekalah saksi kebangkitan Yesus yang pertama kali. Sesudah itu Yesus menampakkan diri kepada Petrus, kemudian kepada kedua belas murid-Nya bdk. 1 Kor 155. Mengapa Kristus Bangkit? St. Thomas Aquinas menjelaskan bahwa ada lima alasan mengapa Kristus bangkit. Pertama, untuk menyatakan keadilan Allah. Kristus yang rela taat pada kehendak Allah, menderita dan wafat sudah selayaknya ditinggikan dengan kebangkitan-Nya yang mulia. Kedua, untuk memperkuat iman kita. Rasul Paulus menuliskan, “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” 1Kor 1514 Dengan kebangkitan-Nya, maka Kristus sendiri membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan, dan membuktikan bahwa kematian-Nya bukanlah satu kekalahan, namun merupakan satu kemenangan yang membawa kehidupan. Ketiga, untuk memperkuat pengharapan. Karena Kristus membuktikan bahwa Dia bangkit dan membawa orang-orang kudus bersama dengan-Nya, maka kita dapat mempunyai pengharapan yang kuat, bahwa pada saatnya, kitapun akan dibangkitkan oleh Kristus. Dan inilah yang menjadi pewartaan para rasul, seperti yang dikatakan oleh rasul Paulus “Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati?” 1Kor 1512. Bersama-sama dengan Ayub, kita dapat berkata “Tetapi aku tahu Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikan- Nya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu.” Ayb 1925,27. Keempat, agar kita dapat hidup dengan baik. St. Thomas mengutip Rm 64, “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Dengan demikian, kebangkitan Kristus mengajarkan kita untuk senantiasa hidup dalam hidup yang baru, yaitu hidup dalam Roh. Kelima, untuk menuntaskan karya keselamatan Allah. Karya keselamatan Allah tidak berakhir pada kematian Kristus di kayu salib, namun berakhir pada kemenangan Kristus, yaitu dengan kebangkitan- Nya. Rasul Paulus menuliskan “yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita.” Rm 425 B. Kenaikan Yesus Kristus ke Surga Selama empat puluh hari setelah kebangkitan, Yesus menampakkan diri kepada para muridNya. Selama itu, keadaanNya yang mulia masih terselubung dalam sosok tubuh seorang manusia biasa, sehingga para murid-murid-Nya dapat mengenali Dia bdk. Mrk 1612; Luk 2415; Yoh 2014-15; 214.Ia hadir di tengah mereka, makan dan minum bersama murid-murid-Nya bdk. Kis 1041 dan mengajarkan bdk. Kis 13 mereka mengenai Kerajaan Allah. Yesus mengakhiri kebersamaan dengan para muridNya dengan menyampaikan tugas perutusan untuk mewartakan Injil, dan menjanjikan kuasa Roh Kudus Kis 18 . “Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke Surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah” Mrk 1619 Gereja mengimani bahwa Kristus naik ke Surga dengan tubuh dan jiwa-Nya. Hal itu disebabkan karena ke-Allahan-Nya, Yesus senantiasa berada bersama dengan Allah Bapa dan Allah Roh Kudus. Dengan kenaikan-Nya ke Surga – dengan tubuh dan jiwa – maka Kristus untuk selamanya membawa persatuan kodrat kemanusiaan-Nya yang telah mulia bersama dengan ke-Allahan-Nya. Kenaikan Kristus ke Surga berbeda dengan pengangkatan Bunda Maria ke Surga. Bunda Maria diangkat ke Surga karena kekuatan Allah, sedangkan Kristus naik ke Surga karena kekuatan-Nya sendiri – karena Dia adalah sungguh Allah. Rasul Paulus menegaskan “Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu.” Ef 410. Dengan demikian, Yesus naik ke Surga dan ditinggikan lebih tinggi dari segala sesuatu baik di bumi maupun di Surga, bahkan segala sesuatu diletakkan di bawah kaki Kristus lih. Ef 120-22. Kenaikan Yesus Kristus ke Surga, mempunyai makna bahwa Ia ditinggikan dengan setinggi-tingginya, hal itu diungkapkan dengan perkataan “Duduk di sebelah kanan Allah Bapa.” . “duduk di sisi kanan Bapa”mengandung makna bahwa Yesus Kristus sehakikat dengan Bapa dan kemuliaan dan kehormatan. Duduk di sebelah kanan Bapa berarti awal kekuasaan Mesias. Penglihatan nabi Daniel dipenuhi “Kepada- Nya diberikan kekuasaan, kemuliaan, dan kekuasaan sebagai raja. Segala bangsa, suku bangsa, dan bahasa mengabdi kepada-Nya. Kekuasaan-Nya kekal dan tidak akan lenyap. Kerajaan-Nya tidak akan musnah” Dan 714. Sejak saat ini para Rasul menjadi saksi-saksi “kekuasaan-Nya”, yang “tidak akan berakhir” Syahadat Nisea-Konstantinopel. Makna Kebangkitan Bagi Kita Rasul Paulus menulis sebagai berikut “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” 1Kor 1517. Kebangkitan-Nya membuktikan bahwa pengajaran dan termasuk klaim bahwa Dia sungguh Allah mendapatkan bukti yang kuat. Hal ini diperkuat bahwa janji akan kebangkitan Kristus telah dinubuatkan sebelumnya. Rasul Paulus menyatakan, “Dan kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu, yaitu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita, telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti yang ada tertulis dalam mazmur kedua Anak- Ku Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini.” Kis 1332-33 Dengan kebangkitan Kristus, maka terbukalah pintu masuk menuju kehidupan baru, yaitu hidup yang dibenarkan oleh Allah atau hidup yang penuh rahmat Allah. Dikatakan dalam Rm 64 “Supaya seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Hidup yang baru, yaitu hidup di dalam rahmat, memungkinkan kita untuk dapat menjadi saudara Kristus dan menjadi anak- anak Allah di dalam Kristus. Dan kepercayaan akan besarnya rahmat Allah ini, membuka harapan baru kepada kita, bahwa pada saatnya nanti, kitapun akan dibangkitkan bersama dengan Kristus dan kemudian hidup berbahagia untuk selama-lamanya bersama dengan Kristus dalam persatuan abadi bersama Allah Roh Kudus dan Allah Bapa. Makna Kenaikan Yesus Ke Surga Bagi Kita Berkat kenaikan Yesus ke Surga, maka Pertama, Kristus adalah Sang Pemimpin kita. Ia akan membawa serta kita semua yang percaya dan bergabung dengan Dia masuk dalam kemuliaan surgawi. Kristus adalah Kepala Gereja dan kita adalah Tubuh-Nya lih. Ef 523; bdk. Mik 213, maka kalau Kristus naik ke Surga dengan kodrat-Nya sebagai manusia dan Allah, maka kita sebagai anggota-anggota-Nya juga akan diangkat ke Surga dengan tubuh dan jiwa kita, sebagaimana yang telah Ia janjikan semasa hidup-Nya untuk menyediakan tempat bagi kita lih. Yoh 142. Kedua, Kristus menjadi Pengantara Kita pada Bapa. Berkat kenaikan Kristus ke Surga, kita dapat sepenuhnya mempercayai Kristus. Dia tidak hanya menjanjikan tempat di Surga, tetapi telah menunjukkan kepada para murid, Dia sendiri terlebih dahulu naik ke Surga. Dengan kenaikan-Nya ke Surga, maka Dia dapat menjadi Pengantara kita kepada Allah Bapa lih. Ibr 725, sehingga kita yang berdosa dapat mempunyai kepercayaan yang besar akan belas kasih Allah lih. 1Yoh 21. Ketiga, kita dipanggil untuk hidup berfokus hal-hal surgawi. Setelah kebangkitan-Nya dan sebelum kenaikan-Nya ke Surga, para rasul bertanya, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Kis 16. Para rasul yang pada waktu itu masih belum mengerti secara penuh akan Kerajaan Allah, masih berharap bahwa setelah kebangkitan-Nya, Kristus akan memulihkan kejayaan Kerajaan Israel. Namun, dengan kenaikan Kristus ke Surga, maka Kristus sekali lagi menegaskan bahwa kerajaan-Nya bukan dari dunia ini namun dari Surga lih. Yoh 1836. Oleh karena itu, sebagai umat beriman, yang telah dibangkitkan bersama dengan Kristus – dengan Sakramen Baptis – senantiasa mencari perkara-perkara di atas, di mana Kristus ada yaitu di Surga lih. Kol 31. Dengan demikian kita tidak boleh berfokus pada perkara-perkara di bumi, melainkan pada perkara-perkara yang di atas atau hal-hal surgawi lih. Kol 32. Setelah membaca dan mempelajari materi diatas, kerjakan soal dibawah ini dan tulis jawabanmu di kolom yang disediakan! Tags PAKatPAKat X
cnVu.
  • 7mv5lxht20.pages.dev/490
  • 7mv5lxht20.pages.dev/124
  • 7mv5lxht20.pages.dev/70
  • 7mv5lxht20.pages.dev/217
  • 7mv5lxht20.pages.dev/107
  • 7mv5lxht20.pages.dev/272
  • 7mv5lxht20.pages.dev/28
  • 7mv5lxht20.pages.dev/20
  • kisah bunda maria setelah yesus wafat